Minggu, 02 Desember 2012

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS



HERNIA NUKLEUS PULPOSUS

Pengertian
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)

Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)

Patofisiologi
Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma *jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.
Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.


Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.
Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.

Manifestasi Klinis
Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis  bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).

Pemeriksaan Diagnostik
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang
2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.

Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral
b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan.
2. Immobilisasi
Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.
3. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.
4. Meredakan Nyeri
Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.

Pengkajian
1. Anamnesa
Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga
2. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya.
3. Pemeriksaan Penunjang


Diagnosa Keperawatan yang Muncul
1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan.

Intervensi
1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot
a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat. Tetapkan skala 0 – 10
b. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang
c. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi
d. Bantu pemasangan brace / korset
e. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan
f. Ajarkan teknik relaksasi
g. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi

2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
a. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
c. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu.
d. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi
e. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat.
f. Kolaborasi : analgetik

3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
a. Kaji tingkat ansietas pasien
b. Berikan informasi yang akurat
c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab.
d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
e. Libatkan keluarga

4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis
a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan
b. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong
c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya.
d. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup.
e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama
f. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan.



DAFTAR PUSTAKA

1.  Smeltzer, Suzane C,  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol 3, Jakarta : EGC, 2002
2.  Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000.
3.  Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5,  Jakarta : EGC, 1998.
4.  Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.
5.  Priguna Sidharta,  Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat, 1996.
6.  Chusid, IG,  Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta : Gajahmada University Press, 1993.
















Pathways













Gangguan Mobilitas Fisik
 
 








ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN METABOLISME PADA SISTEM MUSKULOSKELETAL



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN METABOLISME PADA SISTEM MUSKULOSKELETAL

  1. Asuhan keperawatan pada pasien Gout/Pirai
Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada sendi dan jari.
Patofisiologi
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang mengandung asam urat tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adequat akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat menunpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan respon inflamasi.
Hiperurecemia merupakan hasil:
-          meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal
-          menurunnya ekskresi asam urat
-          kombinasi keduanya
Gout sering menyerang wanita post menopouse usia 50 – 60 tahun. Juga dapat menyerang laki-laki usia pubertas dan atau usia di atas 30 tahun. Penyakit ini paling sering mengenai sendi metatrsofalangeal, ibu jari kaki, sendi lutut dan pergelangan kaki.

Pengkajian Keperawatan
Riwayat Keperawatan
-          Usia
-          Jenis kelamin
-          nyeri (pada ibu jari kaki atau sendi-sendi lain)
-          kaku pada sendi
-          aktivitas (mudah capai)
-          diet
-          keluarga
-          pengobatan
-          pusing, demam, malaise, dan anoreksi
-          takikardi
-          pola pemeliharaan kesehatan
-          penyakit batu ginjal

Pemeriksaan fisik
-          identifikasi tanda dan gejala yang ada peda riwayat keperawatan
-          nyeri tekan pada sendi yang terkena
-          nyeri pada saat digerakkan
-          area sendi bengkak (kulit hangat, tegang, warna keunguan)
-          denyut jantung berdebar
-          identifikasi penurunan berat badan

Riwayat Psikososial
-          cemas dan takut untuk melakukan kativitas
-          tidak berdaya
-          gangguan aktivvitas di tempat kerja

Pemeriksaan diagnostik
-          asam urat
-          sel darah putih, sel darah merah
-          aspirasi sendi terdapat asam urat
-          urine
-          rontgen

Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri b.d adanya radang pada sendi
2.      Gangguan mobilitas fisik b.d adanya nyeri sendi
3.      Potensial terjadi perubahan pola miksi b.d adanya batu atau insufisiensi ginjal
4.      Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan di rumah
5.      Gangguan integritas kulit b.d tophi (tofi)
6.      Resiko : nyeri b.d batu ginjal

Perencanaan dan Implementasi
  1. Gangguan rasa nyaman nyeri
Klien akan menunjukkan tingkat kenyamanan yang lebih baik (rasa nyeri berkurang)
-          Istirahatkan sendi yang sakit dan berikan bantal dibawahnya
-          Berikan kompres hangat
-          Hindarkan factor penyebab munculnya iritasi pada tofi
-          Berikan obat sesuai program
-          Monitor efek samping obat

  1. Gangguan mobilitas fisik
Pasien akan meningkatkan aktivitas sesuai kemampuan
-          anjurkan pasien untuk melakukan gerakan-gerakan bila tidak ada rasa nyeri
-          Lakukan ambulasi dengan bantuan missal dengan menggunakan “walker” atau tongkat
-          Lakukan ROM secara berhati-hati

  1. Kurang pengetahuan
Pasien dan keluarga akan meningkat pemahaman tentang penyakit gout dan cara perawatannya
-          Jelaskan proses perjalanan penyakit
-          Berikan jadwal/program pengobatan (nama obat, dosis, tujuan dan efek samping)
-          Diskusikan pentingnya diit yang terkontrol


  1. Asuhan keperawatan pada pasien Osteoporosis
Osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang berhubungan dengan usia ditandai adanya demineralisasi tulang yang berakibta menurunnya kepedatan tulang dan fraktur.

Patofisiologi
Masa tulang atau kepadatan tulang mencapai puncak pada usia 30- 35 tahun. Setelah mencapai puncak, tulang akan kehilangan Kalsium dari kortek, jaringan padat, lama kelamaan tulang keropos dan patah. Masa tulang akan menurun secara cepat pada masa postmenopouse
Diperkirakan 50% wanita usia lebih dari 65 tahun memiliki gejala osteoporosis. Osteoporosis dibedakan menjadi dua:
1.      Osteopoprosis primer (paling umum) dibedakan menjadi dua (post menopouse terjadi pada usia 55 - 65 tahun & Senil osteoporosis terjadi pada lansia usia > 65 tahun)
2.      Osteoporosis sekunder diakibatkan oleh kondisi medis seperti hiperparathyroid, penggunaan kortikosteroid dalam waktu lama dan lain-lain.
Patofisiologi secara pasti masih belum diketahui, namum diperkirakan oleh karena terjadinya penurunan aktivitas osteoblast dan peningkatan osteoklast

Etiology
Penyebab osteoporosis belum diketahui secara pasti, namun diidentifkiasi beberapa factor resiko memiliki andil terhadap terjadinya osteoporosis:
-          lebih banyak terjadi pada wanita kulit pu tih, sesudah menopouse
-          kurus
-          latihan tidak teratur
-          malabsorbsi
-          diit
-          kekurangan protein
-          kekurangan protein
-          alcohol
-          rokok
-          kafein
-          Heriditer
-          Usia Lanjut

Pencegahan
Ditujukan untuk meminimalisasi factor resiko yang mungkin, penekanannya adalah pada 3 faktor yaitu pengobatan, diet, dan latihan

Pengkajian
Riwayat Kesehatan
-          usia, jenis kelamin, suku
-          bentuk tubuh, Tinggi badan dan Berat Badan
-          paparan dengan sinar matahari, rokok, penggunaan alcohol dan rokok
-          Diit (Calcium dan Vitamin D)
-          Latihan rutin dan type latihan
-          Kesehatan sekarang (pengelolaan medis sekarang)
-          Pengobatan dahulu dan sekarang
-          Keluarga
-          Riwayat jatuh atau pergerakan yang tiba-tiba
-          Nyeri punggung atau panggul
-          Adanya rasa nyeri tekan pada daerah bawah thorak, lumbal

Riwayat Psikososial
-          adanya gangguan body image
-          ketidakmampuan untuk duduk secara fit
-          perubahan pola seksual
-          perubahan status psikologi
-          cemas dan takut terhadap program pengobatan

Pemeriksaan Fisik
Lakukan penekanan pada punggung apakah ada nyeri tekan
Adanya nyeri pergerakan
Amati adanya kelainan bentuk
Periksa mobilitas

Test Laborat
Tidak ada test laborat definitive untuk menegakkan diagnosa osteoporosis primer.
Test yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa osteoporosis sekunder atau gangguan metabolisme tulang adalah serum Calcium, Vit D, Posfor, Alkaline Phosfatase, Calcium dalam Urine, Serum protein, fungsi thyroid.
Test radiology ( CT)
Biopsi tulang

Diagnosa Keperawatan
1.      Potensial cedera (fraktur) b.d demineralisasi, jatuh
2.      Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, disfungsi, nyeri otot
3.      Nyeri b. d fraktur
4.      Intoleran terhadap aktivitas b.d nyeri dan gangguan mobilitas fisik
5.      Cemas b.d takut akan terjadi fraktur ulang
6.      Konstipasi b.d khyposis berat
7.      Tidak efektifnya pola nafas b.d. rusaknya tulang belakang
8.      Tidak efektifnya koping individu b.d. perkembangan penyakit kronik, perubahan bentuk tubuh
9.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d tdak adequatnya intake Calcium
10.  Gangguan body image b.d kelainan bentuk tulang belakang
11.  Gangguan disfungsi seksual b.d nyeri punggung
12.  Kurang pengetahuan b.d pengelolaan atau program treatmen

               Potensial cedera (fraktur) b.d demineralisasi, jatuh

Tujuan: klien tidak akan mengalami jatuh dan fraktur akibat jatuh
-          identifikasi dan hindari lingkungan yang memiliki potensial bahaya
-          Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya untk klien selama di rumah sakit
-          Sediakan support ambulasi bila diperlukan
-          Ketika membantu melakukan ADL, cegah klien dari bahaya kecelakaan
-          Anjurkan untuk tidak melakukan gerakan yang tiba-tiba, tidak mengangkat benda berat
-          Ajarkan pentingnya mengkonsumsi makanan yang dapat mengurangi keparahan osteoporosis
-          Jelaskan tentang efek samping merokok

                   Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, disfungsi, nyeri otot

Tujuan: Klien akan meningkatkan mobilitas fisik sampai batas tidak tergantung dalam memenuhi ADL
-          Konsultasikan pada ahli therapy fisik
-          Beritahu dan ajarkan pentingnya latihan
-          Konsultasikan dengan okupasiterapi
-          Ajarkan cara-cara menggunakan alat bantu gerak

                        Nyeri b. d fraktur vertebrae

Tujuan: Klien akan turun tingkat nyerinya dan tidak tergantung dalam perawatan dirinya
-          kaji perlunya digunakan obat anti nyeri
-          Pertahankan alat yang digunakan untuk memfiksasi fraktur vertebrae
-          Kaji kulit dimana alat dipasang dapat menekan
-          Pasang letakkan secara tepat alat yang ada ketika pasien akan bangun dari tempat tidur
-          Gunakan lotion untuk mengurangi rasa nyeri bila perlu
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN DEGENERASI PADA SISTEM MUSKULOSKELETAL

Asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteoartrosis

Pengertian
Osteoartrosis/Osteoarthritis atau Degenerative Joint Disease merupakan penyakit kronik noninflamatory degeneration) dan bukan penyakit sistemik yang mengenai tulang dan tulang didekatnya.
Penyakit ini dapat mengenai satu sendi pada paha dan lutut namun dapat pula terjadi pada tulang belakang pada bagian servikal dan lumbosakral, interfalangeal, sendi bahu, dan sendi siku.

Penyebab
Secara pasti penyebab osteoartrosis belum diketahui , namun penyakit ini berhubungan dengan proses ketuaan, trauma, obesitas, stress mekanik, kelainan bawaan, dan kelainan-kelainan metabolic.

Pathofisology
Osteoartrosis ditandai dengan kerusakan dan atau hilangnya secara bertahap jaringan lunak sendi bagian tengah maupun tepi. Dapat berupa Osteoartrosis primer maupun sekunder.
Trauma baik ektrensik maupun intrisk pada kartilago dapat menyebabkan osteoartrosis. Trauma extrensik yaitu akibat adanya fraktur atau ruptur ligamen sedangkan trauma intrisik berupa adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal, dan terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaku, kerepitasi, deformitas, adanya hipertrofi atau nodul apad tangan.


Trauma


Perubahan metabolisme sendi

Kerusakan pada membran dan cairan sinovial            Kerusakan pada kartilago matrik

Perubahan fungsi sendi

Nyeri

Stres persendian          Fibrosis kapsuler         kontraktur otot                        Deformitas sendi




Pengkajian

Riwayat Kesehatan
-          usia dan jenis kelamin
-          Riwayat pekerjaan
-          Riwayat trauma
-          Olah raga yang ditekuni saat ini maupun masa lalu
-          Riwayat obesitas
-          Riwayat keluaraga terkait dengan arthritis
-          Penyakit lain yang dialami

Pemeriksaan fisik
-          keluhan utama : nyri sendi (hilang pada istirahat dan meningkat saat aktifitas lama-lama saat istirahat)
-          Kekakuan otot
-          Krepitus
-          Merasakan sendi menebal, kaku
-          Sendi menebal karena hypertrofi
-          Heberden’s node (pada sendi distal interfalangeal)
-          Bouchard’s nodes (pada sendi proksimal interfalangeal)
-          Kemerahan pada sendi
-          Gangguan mobilitas
-          Gangguan ADL